Cara Pengujian Garam Beryodium

  1. DENGAN CARA SEDERHANA

Dengan menggunakan singkong :

  • Kupas dan parut singkong yg masih segar
  • Tuangkan 1 sdm perasan singkong parut tanpa dicampur air ke dlm wadah yg kering dan bersih
  • Tambahkan 4-6 sdt penuh garam yg hendak diuji
  • Lalu tambahkan 2 sdt cuka biang, aduk rata, kmdn biarkan bbrp menit, bila timbul warna biru keunguan berarti garam tsb mgd iodium
  1. DENGAN MENGGUNAKAN IODINA TEST /RAPID TEST
  • Siapkan 1 sdm garam yang akan diuji kadar yodiumny
  • Lalu letakkan pada wadah yang bersih
  • Tetesi garam tersebut dengan iodina test sebanyak 1-2 tetes
  • Bila garam berubah warna menjadi biru tua maka garam tersebut mengandung yodium
  1. DENGAN CARA TITRASI
  • Timbang 25 gr garam, lalu haluskan
  • Masukkan garam tersebut ke tabung Erlen-meyer lalu tambahkan 100 ml air suling atau air matang ke dalam gelas erlenmeyer dan larutkan
  • Tambahkan reagen A dan reagen B masing-masing ± 5 tetes, bila timbul warna biru nyata, berarti garam mengandung KIO3
  • Hilangkan warna biru dengan memberikan larutan standar sedikit demi sedikit memakai buret/spuit/tabung suntik sambil dikocok sampai warna biru/ungu menjadi lebih muda dan warna biru/ungunya hilang

Kadar KIA3 (ppm) :

  • Banyaknya larutan standar yang dipakai untuk menghilangkan warna biru dikalikan faktor larutan standar
  • Faktor pengali larutan standar adalah 7,27

Semoga bermanfaat. (Tyas)

ORIENTASI ASUHAN GIZI PUSKESMAS DAN ELEKTRONIK PENCATATAN DAN PELAPORAN GIZI BERBASIS MASYARAKAT(E-PPGBM) DI KABUPATEN WONOGIRI TAHUN 2018

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (BAB VIII) mengamanatkan bahwa Upaya Perbaikan Gizi bertujuan untuk meningkatkan mutu gizi perseorangan dan masyarakat, antara lain melalui perbaikan pola konsumsi makanan, perbaikan perilaku sadar gizi, dan peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi dan kesehatan sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi. Upaya pembinaan gizi dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan sesuai dengan perkembangan masalah gizi, penahapan dan prioritas pembangunan nasional.

Perkembangan masalah gizi di Indonesia semakin kompleks saat ini. Selain masih menghadapi masalah kekurangan gizi, masalah kelebihan gizi juga menjadi persoalan yang harus ditangani dengan serius. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015 – 2019, perbaikan status gizi masyarakat merupakan salah satu prioritas dengan menurunkan prevalensi balita gizi kurang (underweight) menjadi 17 % dan prevalensi balita pendek (stunting) menjadi 28 % pada tahun 2019. Hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2016 menunjukkan prevalensi balita pendek 29,0% , gizi kurang  17,8 % dan balita kurus 11,1 %. Sementara  hasil PSG 2016 menunjukkan bahwa ibu hamil dengan resiko kurang energi kronis (KEK) sebesar 16,2 %, meningkat 2,9 % dibansingkan tahun 2015. Upaya pembinaan perbaikan gizi dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan sesuai dengan perkembangan masalah gizi, pentahapan dan prioritas pembangunan nasional.

Tujuan dari diadakan pertemuan ini adalah Meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan ketrampilan peserta dalam pelaksanaan asuhan gizi puskesmas dalam pelaksanaan E-PPGBM  khususnya dari puskesmas sehingga dapat berjalan dengan lancar dan petugas dapat memahami tentang kebiajakan pelayanan Gizi di Puskesmas dan E-PPGBM.

untuk materi-materi E-PPGBM bisa di download pada page dibawah ini.