Sebuah bukti keikhlasan dan pengabdian terbaik untuk Indonesia

Sebuah bukti keikhlasan dan pengabdian terbaik untuk Indonesia

Mencetak SDM yang sehat dan berkualitas melalui program @nusantara_sehat . Sebuah bukti keikhlasan dan pengabdian anak muda terbaik di Indonesia
cakupan program meningkat karena Nusntara Sehat loh. Selain itu karena respon time puskesmas meningkat juga.
Dengan imunisasi kita memperkuat generasi bangsa
Menyusui sama dengan investasi jangka panjang. Menyusui dapat meningkatkan kesehatan, perkembangan sosial, serta ekonomi individu dan bangsa.
UPTD Puskesmas Wonogiri 1, bangga menjadi bagian mencetak SDM yang unggul untuk Indonesia Maju
Kemenkes Tingkatkan Status Gizi Masyarakat

Kemenkes Tingkatkan Status Gizi Masyarakat

Pembangunan Sumber Daya Manusia menjadi fokus Presiden Joko Widodo di periode kedua masa pemerintahannya. Pembangunan SDM erat kaitannya dengan asupan gizi setiap individu.
Kementerian Kesehatan akan memfokuskan peningkatan gizi masyarakat dan telah tercantum pada Rencana Strategis (Renstra) Kemenkes 2020-2024.
Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar, kondisi gizi anak telah menunjukkan perbaikan. Pada masalah stunting terjadi penurunan prevalensi pada anak balita dari 37,21% di tahun 2013 menjadi 30,79% tahun 2018. Demikian juga apabila dibandingkan dengan data prevalensi stunting pada balita tahun 2016 (Sirkesnas), yaitu 33,60 persen.
Selain itu perbaikan gizi juga tercermin dari penurunan kekurangan gizi (underweight) pada anak balita dari 19,6% pada 2013 menjadi 17,68% pada 2018. Penurunan wasting atau anak balita kurus dari 12,12% pada 2013 menjadi 10,19% tahun 2018.
Terkait kegemukan (obesitas) pada anak balita juga mengalami perbaikan yaitu menurun dari 11,90% pada 2013 menjadi 8,04% tahun 2018.
Menteri Kesehatan RI Nila Moeloek mengatakan upaya perbaikan gizi harus didukung dengan komitmen yang tinggi dari pimpinan di semua tingkatan dan kementerian/lembaga, serta berbagai pemangku kepentingan non pemerintah seperti dunia usaha, kelompok masyarakat sipil, perguruan tinggi, mitra pembangunan, organisasi profesi, dan masyarakat secara luas.
Menkes menekankan perbaikan gizi yang memerlukan perhatian khusus adalah penurunan stunting pada anak balita. Karena stunting berkaitan dengan kecerdasan dan berbagai penyakit terutama penyakit tidak menular.
”Pendekatan penurunan stunting pada tahun 2018 adalah mengkombinasikan intervensi spesifik (intervensi langsung ke sasaran) yang umumnya dilakukan sektor kesehatan dengan intervensi sensitif (intervensi tidak langsung) yang umumnya dikerjakan oleh sektor di luar kesehatan. Selain itu, untuk meningkatkan efektifitas kegiatan, intervensi terintegrasi tersebut difokuskan pada kabupaten/kota yang memiliki prevalensi stunting tinggi, jumlah anak balita banyak, angka kemiskinan tinggi, dan mewakili setiap provinsi. Pada tahun 2018 kegiatan fokus penurunan stunting terintegrasi dilakukan pada 100 kabupaten/kota dan pada tahun 2019 diperluas menjadi 160 kabupaten/kota,” katanya.
Selain status gizi, kesehatan ibu dan anak juga sebagai penentu kualitas sumber daya manusia. Status gizi dan kesehatan ibu pada masa pra-hamil, saat kehamilan, dan saat menyusui merupakan periode yang sangat kritis.
Apabila dihitung dari sejak hari pertama kehamilan, kelahiran bayi sampai anak usia 2 tahun, maka periode ini merupakan periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) manusia.
”Periode ini telah dibuktikan secara ilmiah merupakan periode yang menentukan kualitas kehidupan, oleh karena itu periode ini ada yang menyebutnya sebagai Periode Emas, Periode Kritis, dan Bank Dunia menyebutnya sebagai window of opportunity,” ucap Menkes.
Periode 1000 HPK merupakan periode yang sensitif karena akibat yang ditimbulkan terhadap bayi pada masa ini akan bersifat permanen dan tidak dapat dikoreksi. Dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh masalah gizi pada periode tersebut, dalam jangka pendek adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan pertumbuhan fisik dan gangguan metabolisme dalam tubuh.
Sedangkan dalam jangka panjang akibat buruk yang dapat ditimbulkan adalah menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh sehingga mudah sakit, dan resiko tinggi untuk munculnya penyakit diabetes, kegemukan, penyakit jantung dan pembuluh darah, kanker, stroke, dan disabilitas pada usia tua, serta kualitas kerja yang tidak kompetitif yang berakibat pada rendahnya produktivitas ekonomi.
Terobosan yang dilakukan Kemenkes untuk menjadikan SDM unggul adalah melalui peningkatan sasaran Pemberian Makanan Tambahan (PMT) untuk balita kurus dan ibu hamil Kurang Energi Kronik (KEK), pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) bagi seluruh ibu hamil, dan remaja putri.
Walaupun remaja putri secara eksplisit tidak disebutkan dalam 1000 HPK, namun status gizi remaja putri atau pranikah memiliki kontribusi besar pada kesehatan dan keselamatan kehamilan dan kelahiran apabila remaja putri menjadi ibu, kata Menkes.
Integrasi program penurunan stunting melalui kegiatan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) perlu dilakukan mengingat masih banyaknya masyarakat yang acuh dengan Pola Hidup Bersih dan Sehat.
Terobosan lainnya yang dilakukan Kemenkes adalah PMT bagi Balita kurus, upaya Pendidikan gizi dalam peningkatan ASI Eksklusif, Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA), dan promosi pedoman Gizi Seimbang.
”Ini yang harus ditekankan kepada masyarakat, kita tidak lagi mengacu pada empat sehat lima sempurna, tapi pedoman gizi seimbang melalui isi piringku. Porsi Isi Piringku itu berisi makanan pokok (sumber kabohidrat) dengan porsi 2/3 dari 1/2 piring,lauk pauk (sumber protein) dengan porsi 1/3 dari 1/2 piring, sayur-sayuran (sumber vitamin dan mineral) dengan porsi 2/3 dari 1/2 piring dan buah-buahan (sumber vitamin dan mineral) dengan porsi 1/3 dari 1/2 piring,” jelas Menkes.
Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi nomor hotline Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat emailkontak[at]kemkes[dot]go[dot]id.

74th SDM Unggul, Indonesia Maju

74th SDM Unggul, Indonesia Maju

Pelayanan kesehatan anak yang lebih baik akan menjadikan SDM yang unggul

Tahun 2019 ini kembali kita merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Indonesia. Sejalan dengan harapan seluruh warga Negara Indonesia, bahwa bertambahnya usia bangsa ini maka seluruh sector pembangunan menjadi maju, terutama sector kesehatan, sesuai dengan tujuan pembangunan kesehatan.

Dengan berbekal sikap optimis UPTD Puskemas Wonogiri 1 harus mampu meyakinkan masyarakat bahwa masih ada harapan besar bagi bangsa ini, sesuai dengan tema HUT RI ke 74. Tema yang sangat powerfull, yang ditetapkan pemerintah melalui Setneg adalah  : ‘74th SDM Unggul Indonesia Maju’.

Kepala UPTD Puskesmas Wonogiri 1 dr. Pitut Kristiyanta Nugraha,MM  mengatakan, “Presiden kerap kali menyampaikan bahwa prioritas utama Indonesia ke depan adalah pembangunan sumber daya manusia”. Prioritas tersebut adalah untuk membangun sumber daya manusia, dan menjadi kewajiban kami untuk menyiapkan generasi yang lebih sehat dan SDM unggul untuk menuju Indonesia Maju, tambahnya.

Menyiapkan generasi yang sehat menuju SDM unggul, Indonesia Maju

Berbagai program kesehatan yang menunjang peningkatan SDM yang telah dilakukan di puskesmas adalah, upaya kesehatan ibu dan anak, perbaikan gizi, imunisasi, pencegahan stanting yang dilaksanakan dengan berbagai cara, salah satunya melalui Posyandu Balita maupun Posyandu Integrasi. Selain hal tersebut pembenahan infrastruktur juga dilakukan sebagai upaya menunjang pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk peningkatan SDM yang unggul adalah menjadikan puskesmas Wonogiri 1, ramah anak dalam pelayanannya. Sehingga anak-anak akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya. Program lain yang tak kalah penting dalam upaya peningkatan SDM adalah program UKS / Upaya Kesehatan Sekolah. Dan berbagai kegiatan yang melibatkan anak-anak usia sekolah telah dilakukan diantaranya sosialisasi kesehatan bagi remaja,termasuk peyuluhan anti napza, pelayanan klinik PKPR ( Pelayanan Klinik Peduli Remaja ). Semoga di usia yang semakin bertambah bangsa Indonesia mampu mempunyai daya saing yang kuat, SDM unggul Indonesia Maju, dirgahayu Indonesia, pungkas dr.Pitut. (mBinG)

Sambutan Bupati Wonogiri pada upacara bendera peringatan HUT ke 74 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Sabtu 17 Agustus 2019

Sambutan Bupati Wonogiri pada upacara bendera peringatan HUT ke 74 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Sabtu 17 Agustus 2019

Bismillahirohmaanirrohiim.

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Salam sejahtera bagi kita sekalian,

Oom swastiastu,

Nammo Buddhaya,

  • Yang saya hormati segenap tamu undangan;
  • Yang saya hormati seluruh peserta upacara;
  • Seluruh warga masyarakat Kabupaten Wonogiri yang saya cintai dan banggakan.

Rasa syukur marilah senantiasa kita panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, karena atas perkenan-Nya, kita sekalian masih diberikan kekuatan dan kesempatan untuk melaksanakan Upacara Bendera Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-74 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 2019.

Upacara ini sebagai wujud kebanggaan atas nikmat kemerdekaan yang bukan merupakan hadiah dari bangsa penjajah, melainkan hasil perjuangan para pahlawan kusuma bangsa dan para pendiri bangsa. Rasa bangga merasuk dalam hati sanubari kita bersama, sebagai suatu bangsa yang telah menempuh perjalanan panjang dengan berbagai dinamika. Suka ataupun duka yang dialami bangsa kita, tidak akan pernah menyurutkan langkah kita untuk tetap mencintai dan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sebagai wujud kebanggaan kita sebagai bangsa yang merdeka, sambutlah pekik perjuangan kebangsaan kita: MERDEKA!! MERDEKA!! MERDEKA!!

Peserta upacara yang saya banggakan,

Warisan terbesar yang harus terus dijaga dan dipertahankan oleh generasi saat ini adalah Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan bangsa. Semboyan yang menyiratkan pentingnya persatuan diatas keberagaman agama, budaya, adat, seni dan budaya yang ada di negeri kita.

Harus kita sadari bahwa keberagaman menjadi rajutan keindahan dalam perjalanan Republik Indonesia, yang tercermin pada rona kemeriahan peringatan hari kemerdekaan di berbagai pelosok daerah. Dibutuhkan kebersamaan untuk menyatukan kepingan-kepingan mozaik yang mampu menyatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Seluruh elemen pemerintahan dan masyarakat harus berada pada satu semangat yang sama, satu ikrar untuk maju bersama sebagai suatu bangsa, dengan mengesampingkan ego pribadi dan ego sektoral.   

Peserta upacara yang saya banggakan,

Pada hari ini tanggal 17 Agustus 2019, Negara Kesatuan Republik Indonesia tepat berusia 74 tahun. Tema utama peringatan adalah: SDM Unggul Indonesia Maju, mengingatkan kita sekalian untuk memberikan perhatian lebih terhadap upaya menyiapkan kader bangsa dengan memberikan bekal karakter dan pengetahuan yang kuat, demi menjamin perjalanan bangsa dan negara kita di masa yang akan datang, serta untuk mewujudkan Indonesia yang Maju.

SDM unggul ditandai dengan kemampuan akademik yang mumpuni, sikap mental positif yang mampu mengoptimalkan potensi, memiliki kepekaan sosial yang tinggi, sehingga dapat ber-empati dan peduli dengan sesama warga masyarakat. Inilah esensi dalam memaknai kemerdekaan dalam keberagaman, yang merupakan anugerah terindah bagi negara kita. Merdeka dan berhak menggali potensi diri, namun tidak lalai terhadap kewajiban sosial, untuk mewujudkan kejayaan bangsa. 

Peserta upacara yang saya banggakan,

Kejayaan suatu bangsa merupakan kerja kolektif antara aparatur negara dengan segenap komponen masyarakat yang mampu membentuk sinergi. Kita sekalian bersyukur bahwa masyarakat memiliki cara pandang yang sama pada aspek ini. Terbukti pada suksesnya pelaksanaan Pemilihan Umum yang baru lalu. Kesadaran kolektif untuk menjamin perjalanan bangsa di masa yang akan datang, tertuang dalam aspirasi politik dalam memilih Presiden-Wakil Presiden, dan wakil rakyat yang duduk di berbagai tingkat jajaran legislatif.

Perlu saya sampaikan bahwa Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Wonogiri periode 2019-2024 telah dilantik dan diambil sumpah/ janji, untuk selanjutnya diharapkan dapat segera bekerja melaksanakan tugas sebagai wakil rakyat. 50 Anggota DPRD menjadi jembatan aspirasi masyarakat, bersama segenap perangkat pemerintah bekerja menyusun dan menentukan kebijakan dalam berbagai aspek.

Dengan harmonisasi dan kebersamaan, kiranya pola pembangunan yang ada di Kabupaten Wonogiri dapat terus berkelanjutan. Dengan semangat “Sesarengan mBangun Wonogiri”, Kabupaten Wonogiri akan mampu melesat menuju kehidupan yang semakin baik. Tahap demi tahap telah dilakukan, sukses yang diraih adalah berkat dukungan dan peran serta seluruh komponen masyarakat dengan unsur pemerintahan.

Sejumlah indikator keberhasilan, pemerintah berhasil menghadirkan perbaikan infrastruktur jalan, pasar tradisional, fasilitas pendidikan, kesehatan dan pertanian yang tersebar merata di 25 Kecamatan se- Kabupaten Wonogiri. Dan capaian tersebut memberi kontribusi positif pada keberhasilan menekan angka kemiskinan dari 12,98% pada tahun 2016, menjadi 10,7% pada tahun 2018. Kabupaten Wonogiri juga berhasil menerapkan pendidikan gratis, beasiswa bagi mahasiswa berprestasi, layanan kesehatan gratis, revitalisasi pasar tradisional, dan sarana pertanian modern.   

Sektor lain yang juga menjadi perhatian pemerintah adalah membangun sarana air bersih di wilayah rawan kekeringan, membangun potensi wisata, melakukan rehab rumah tidak layak huni, yang semuanya dimaksudkan untuk memberi makna kemerdekaan bagi seluruh masyarakat secara adil dan merata.

Tamu undangan dan Peserta upacara yang berbahagia,

Pada momentum peringatan Hari Ulang Tahun ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia, saya mengajak seluruh perangkat pemerintahan dan seluruh komponen masyarakat untuk menyatu dalam kerja besar mewujudkan Visi “MemBangun Wonogiri SUKSES, Beriman, Berbudaya, Berkeadilan, Berdaya Saing dan Demokratis”. Dengan pola kebijakan pembangunan yang berpedoman pada Panca Program, bersama kita laksanakan pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Wonogiri. 

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA…!!

Sekian dan terima kasih.

Wassalamu`alaikum Wr. Wb.

Oom Shanti..Shanti.. Oom

Namo Buddhaya,

BUPATI WONOGIRI

JOKO SUTOPO

Kemenkes Terus Upayakan Kurangi Masalah Gangguan Pendengaran

Kementerian Kesehatan RI terus upayakan kurangi gangguan pendengaran di Indonesia. Ada 5 jenis kebijakan dan strategi penanggulangan gangguan pendengaran dan ketulian yang digunakan.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kemenkes, dr. Cut Putri Arianie, MH.Kes mengatakan pentingnya menurunkan gangguan pendengaran agar kualitas bangsa Indonesia meningkat. Misalnya dalam hubungan sosial atau pendidikan, pendengaran sangat penting pada kedua hal itu.

”Mendengar sangat berkaitan dengan hubungan sosial, kalau tidak mendengar maka sosialisasi akan berjalan tidak baik dan hubungan akan buruk. Di dunia pendidikan pun sangat penting, kalau pendengaran buruk kualitas pendidikan pun buruk,” katanya saat temu media Hari Pendengaran Sedunia, Jumat (22/3) di gedung Kemenkes, Jakarta.

dr. Cut mengaku ingin mendorong masyarakat peduli terhadap telinga karena apabila pendengaran tidak baik akan mengganggu kualitas kehidupan. Banyak potensi yang menjadi penyebab kerusakan pendengaran, seperti kebisingan di sekolah kejuruan jurusan mesin, dan terlalu lama menggunakan headphone.

Berdasarkan Riskesdas 2013 prevalensi gangguan pendengaran penduduk di atas 5 tahun sebanyak 2,6 dari seluruh wilayah di Indonesia. Angka gangguan pendengaran yang cukup tinggi mengancam terjadinya tuli sedang, berat sampai dengan sangat berat. Selain itu, tuli kongenital terjadi pada 1-2 kelahiran. Ketulian bersifat sensorineural dari ringan sampai sangat berat.

”Proporsi gangguan pendengaran karena cacat sejak lahir bisa disembuhkan apabila diobati sebelum usia 3 bulan. Itu bisa mencegah terjadinya ketulian dengan menepuk tangan saat bayi baru lahir, biasanya dokter atau bidan yang membantu melahirkan telah melakukan hal tersebut. Jika terjadi refleks gerakan pada bayi, maka pendengaran bayi itu sehat. Setelah itu lakukan pemeriksaan sampai tiga bulan ke fasilitas kesehatan,” kata dr. Cut.

Hari Pendengaran Sedunia diperingati setiap tanggal 3 Maret, dan Kemenkes menargetkan gangguan pendengaran berkurang menjadi 90% di tahun 2030.

Lima jenis kebijakan dan strategi penanggulangan ganggauan pendengaran dalam mencapai target itu adalah :

1.Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk hidup sehat sehingga dapat terhindar dari faktor risiko.

2.Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas melalui penguatansumber daya , dan standardisasi pelayanan,

3.Meningkatkan kemitraan dengan lintas program, lintas sektor, dan pemangku kepentingan terkait,

4.Menyelenggarakan Surveilans dengan mengintegrasikan dalam sistem surveilans penyakit tidak menular diFasilitas Pelayanan Kesehatan dan masyarakat.

5.Meningkatkan advokasi kepada Pemerintah Daerah, Pemerintah Desa, dan pemangku kepentingan terkait.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat email kontak[at]kemkes[dot]go[dot]id.(D2)

4 Persiapan Sederhana agar Tubuh Tetap Sehat Meski Banyak Makan Daging (bagian 2)

3. Menentukan metode masak yang tepat untuk mengolah

Selain mengonsumsi makanan yang mampu mengurangi kadar lemak dalam tubuh akibat konsumsi daging. Mempersiapkan metode masak daging juga hal yang penting diperhatikan.

Usahakan Anda mengolah daging secukupnya, untul 2-3 kali waktu makan saja, dan dalam metode masak yang redah lemak, misalnya dipanggang, dibakar, dikukus atau direbus.

Jika porsi daging yang tersedia cukup banyak maka simpan daging dalam suhu beku untuk Anda olah pada waktu makan lainnya

4. Berolahraga

Cara terakhir agar kita bisa tetap sehat meskipun banyak makan daging adalah dengan melakukan pembakaran kalori yang cukup besar, yaitu dengan melakukan olahraga.

Anda bisa meningkatkan durasi maupun frekuensi melakukan olahraga di sekitar waktu Idul Adha agar pembakaran lemak dalam tubuh bisa semakin optimal. ( dr.Arif Roberto Bagio / UPTD Puskesmas Wonogiri 1 )

4 Persiapan Sederhana agar Tubuh Tetap Sehat Meski Banyak Makan Daging (bagian 1)

Idul Adha salah satu hal yang menjadi khas dari sisi sajian makanan, tentu saja adalah daging, baik daging kambing maupun daging sapi.

Hal ini wajar mengingat hari raya Idul Adha merupakan hari raya kurban, sehingga tingkat kemudahan memperoleh daging akan semakin besar. Kondisi ini mau tak mau akan membuat kita lebih banyak mengonsumsi daging saat Idul Adha.

Padahal, seperti yang kita ketahui, daging merupakan jenis makanan berprotein hewani yang banyak mengandung lemak jenuh, sehingga konsumsinya harus dikontrol.

Untuk itu, penting bagi kita mengetahui apa saja persiapan yang perlu kita lakukan jelang Idul Adha, dimana kita akan cenderung lebih banyak makan daging daripada hari biasa.

Mempersiapkan tubuh jelang konsumsi daging yang lebih banyak dari hari biasa akan menyebabkan tubuh bisa lebih siap dan beradaptasi dengan lebih baik.

Persiapan yang tepat, juga akan membuat tubuh bisa memanfaatkan kandungan zat dan gizi dari daging dengan optimal, serta mencegah terjadinya penumpukan lemak akibat konsumsi daging yang berlebihan.

Berikut 4 persiapan sederhana yang bisa kita lakukan sebelum makan daging lebih banyak dari hari biasa:

1. Lebih banyak mengonsumsi makanan yang mengandung serat

Salah satu zat gizi utama yang bisa mengontrol atau melawan asupan zat yang berbahaya dalam daging, jika dikonsumsi berlebihan adalah serat.

Serat merupakan zat gizi yang mampu menyerap dan meningkatkan pembuangan lemak dan kolesterol dalam tubuh.

Untuk itu, sebelum Anda akan mengonsumsi banyak daging saat Idul Adha, ada baiknya jika Anda meningkatkan konsumsi serat pada beberapa hari sebelum hingga beberapa hari setelahnya.

Hal ini bisa Anda lakukan dengan banyak mengonsumsi makanan dari tanaman, atau plant based food, yang banyak mengandung serat.

Misalnya, umbi-umbian, beras merah, sayur, buah, atau kacang-kacangan. Pilih makanan-makanan tersebut sebagai makanan pokok, makanan pendamping, minuman, atau camilan jelang Idul Adha.

2. Utamakan mengonsumsi makanan atau minuman yang mampu menurunkan atau membuang kolesterol dalam tubuh

Selain serat, ada beberapa jenis makanan atau minuman yang terbukti mampu menurunkan kadar lemak maupun kolesterol dalam tubuh.

Makanan dan minuman tersebut memiliki kandungan zat dan gizi yang bisa membuang kolesterol, baik dengan membuang lemak dan kolesterol atau meningkatkan metabolisme tubuh sehingga kadar lemak dalam tubuh bisa berkurang.

Beberapa bahan makanan yang terbukti mampu menurunkan lemak dan kolesterol dalam tubuh adalah:

  • Yoghurt dengan tambahan stanol dan sterolstanol dan sterol merupakan zat pada makanan yang terbukti paling efektif membuang lemak dalam tubuh. Utamakan memilih yoghurt berfortifikasi stanol dan sterol dengan jenis yoguhrt yang rendah lemak dan tanpa tambahan rasa buah atau gula buatan.
  • Minuman yang mampu menurunkan kadar lemak dalam tubuh, misalnya green tea, minuman rempah, minuman dari buah utamanya jus dari sayur atau buah yang tinggi serat. (dr.Arif Roberto Bagio / UPTD Puskesmas Wonogiri 1 )

HINDARI MENGONSUMSI DAGING SECARA BERLEBIHAN SAAT IDUL ADHA

Peringatan Hari Raya Idul Adha atau hari raya kurban identik dengan mengonsumsi daging sapi ataupun kambing. Kedua daging ini sering dituduh sebagai biang keladi penyebab hiperkolesterol atau hipertensi.

Padahal dari sisi kesehatan, daging sapi maupun kambing merupakan sumber protein hewani cukup tinggi, mengandung zat besi, dan kandungan nutrisi lainnya. Namun, ketika daging ini dikonsumsi dalam jumlah tidak wajar justru akan menimbulkan penyakit seperti penyakit darah tinggi atau hipertensi dan hiperkolesterol.

Daging kambing dan daging sapi termasuk kelompok daging merah yang banyak mengandung lemak. Lemak hewani biasanya mengandung lemak jenuh. Lemak jenuh ini banyak mengandung LDL (low density lipoprotein), lemak jahat yang bisa menumpuk pada dinding pembuluh darah dapat meningkatkan kolesterol dan memicu penyakit jantung.

Beberapa penyakit yang ditimbulkan akibat mengonsumsi daging sapi atau kambing secara berlebihan, yaitu:

  1. Dislipidemia

Telah dijelaskan bahwa daging merah seperti daging sapi atau kambing banyak mengandung lemak. Dislipidemia adalah kondisi lemak darah tidak dalam batas normal. Kolesterol total meningkat terutama LDL (low density lipoprotein) sering disebut lemak jahat dan bisa juga terjadi penurunan kadar lemak baik yang disebut HDL (high density lipoprotein).

  • Hipertensi

Hipertensi atau penyakit darah tinggi erat kaitannya dengan pembuluh darah. Akibat mengonsumsi daging sapi atau kambing secara berlebihan dapat mengakibatkan penumpukan plak (kolesterol) dalam pembuluh darah sehingga dapat menyebabkan penyakit hipertensi. Selain hipertensi, penumpukan plak ini dapat memicu terjadi nya penyakit jantung.

  • GERD (Gastroesophageal Reflux Disease)

Mungkin nama penyakit ini masih asing terdengar di masyarakat. GERD merupakan penyakit di mana asam atau isi lambung naik ke atas kembali ke kekerongkongan. Gejala utama dari asam lambung naik adalah rasa seperti terbakar di dada (heartburn), yang bertambah parah setelah makan atau saat berbaring. Gejala ini dapat disertai dengan keluhan gangguan pencernaan lainnya, seperti sering bersendawa, serta mual dan muntah. Hindari setelah mengonsumsi daging langsung tidur karena kekenyangan, sehingga akan mencetuskan keluhan penyakit GERD.

  • Sembelit

Sembelit atau susah buang air besar (BAB) diakibatkan karena menurunnya pergerakan usus. Konsumsi daging berlebihan dan kurangnya serat membuat beban kerja usus meningkat sehingga menurunnya pergerakan usus yang berdampak pada sulitnya BAB. Daging sapi dan kambing mengandung zat gizi yang kita butuhkan, tetapi kalau jumlahnya berlebihan akan mengganggu kesehatan. Maka dari itu, hindari mengonsumsi daging ini secara berlebihan, mengingat jumlah kandungan lemak jenuhnya yang cukup tinggi dan jangan lupa juga untuk mengonsumsi makanan kaya serat yang terdapat di sayur dan buah-buahan, serta minum air putih. (dr. Rizky Sarah Tifani / UPTD Puskesmas Wonogiri 1 )

Gerakan Minum Air Bersama di Arafah

Gerakan Minum Air Bersama di Arafah

Selama melaksanakan Wukuf di Arafah, beragam aktivitas ibadah dilakukan oleh jemaah haji. Sebagian jemaah terlihat sedang khusuk berdoa, yang lain tengah memperbanyak berdzikir dan ada pula yang sedang membaca quran.
Sejak 2018, aktivitas ibadah selama di Padang Arafah juga diselingi dengan gerakan bersama untuk menjaga kesehatan jemaah haji yakni melalui gerakan minum air bersama.
Gerakan tersebut dicanangkan untuk mengajak jemaah haji untuk lebih sering meminum air, terutama air mineral atau air zam-zam. Suhu udara di Arab Saudi, khususnya saat pelaksanaan Wukuf di Arafah sedang tinggi. Dengan minum bareng dapat meminimalkan risiko dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh.
Pada 2019, gerakan minum air bersama kembali dilaksanakan oleh seluruh jemaah haji Indonesia dari berbagai kloter. Tim Promotif Preventif yang tengah berkeliling ke tenda-tenda mengajak jemaah untuk minum bareng. Begitu pula yang dilakukan oleh Kepala Pusat Kesehatan Haji Kemenkes, Dr. dr. Eka Jusup Singka, MSc., saat berkunjung ke salah satu kloter di dekat pos satelit 3 Arafah.”Perbanyak minum air dan makan buah,” pesan Eka kepada jemaah.
Gerakan minum air bersama dipraktikkan selama di Arafah mulai pukul 10.00 hingga pukul 16.00 Waktu Arab Saudi, dengan selang waktu dua jam. Seluruh jemaah haji beserta petugas kloternya secara bersamaan meminum air yang sudah dicampur dengan oralit.
Kebiasaan minum bareng sudah mulai digalakkan sejak dilaksanakan penyuluhan-penyuluhan kesehatan di kloter.Diharapkan gerakan ini terus dilakukan tidak hanya saat puncak haji di Armuzna tetapi sampai dengan akhir waktu keberadaan jemaah haji Indonesia di Arab Saudi.
Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemenkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat emailkontak[at]kemkes[dot]go[dot]id

Petugas Kesehatan Jantungnya Penyelenggaraan Haji

Petugas Kesehatan Jantungnya Penyelenggaraan Haji

Menteri Agama, Lukman Hakim Saifudin berkesempatan mengunjungi Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Makkah, pada Sabtu (3/8) sore waktu setempat. Pada kunjungan tersebut Menag didampingi rombongan Amirul Hajj Indonesia, diantaranya Staf Ahli Menteri Kesehatan Bidang Desentralisasi Kesehatan, dr. Pattiselano Roberth Johan, MARS.

Dalam kesempatan dialog dengan jajaran KKHI Makkah, Lukman mengatakan bahwa petugas kesehatan haji memiliki peran vital dalam setiap penyelenggaraan ibadah haji.

”Petugas kesehatan adalah jantung dari seluruh penyelenggaraan rangkaian ibadah haji,” ujar Lukman Hakim Saifudin.

Meskipun begitu, menurut Lukman hal ini bukan berarti mengecilkan peran petugas haji lainnya. Namun, memang harus diakui jemaah haji membutuhkan kesehatan yang prima dalam menjalankan seluruh prosesi ibadah haji. Ia pun berharap para petugas kesehatan tetap bekerja keras dengan penuh keikhlasan dalam melayani para jemaah haji Indonesia di tanah suci.

”Saya menghargai keikhlasan. Hanya Allah yang bisa membalasnya. Ikhlaslah, bahwa yang kita lakukan adalah untuk kemashlahatan melayani tamu-tamu Allah,” kata Menag.

Pada rapat dengan jajaran KKHI Makkah, Amirul Hajj dan rombongan mendengarkan penjelasan dari Kepala Seksi Kesehatan Daker Makkah, dr. M. Imran, MKM, mengenai ketersediaan layanan yang ada di KKHI Makkah dan kesiapan bidang kesehatan dalam menghadapi masa ibadah haji di Arafah, Muzdalifah dan Mina. Menag menilai para petugas kesehatan sudah mengantisipasi segala sesuatunya dan ia berharap bisa terlaksana dengan sebaik-baiknya.

Lukman Hakim Saifudin kembali mengapresiasi petugas kesehatan yang dinilainya luar biasa dedikasinya. Menurutnya sebagian petugas kesehatan ada yang sejak awal sudah berkomitmen untuk tidak berhaji hanya karena ingin bisa lebih maksimal melayani jemaah haji Indonesia. Mereka berpegangan bahwa ibadah tidak hanya dalam bentuk rukun atau wajib haji tapi ibadah mereka adalah membantu jemaah-jemaah haji Indonesia yang mengalami gangguan kesehatan.

”Jadi tentu selaku Amirul Hajj, saya sangat mengapresiasi dengan komitmen dan dedikasi dari petugas-petugas kesehatan,” ucap Menag.

Terkait angka kematian jemaah haji Indonesia yang menurun pada periode yang sama ketimbang tahun lalu, Menag juga mengungkapkan rasa syukurnya. Menag berharap angka ini tidak semakin bertambah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia menganggap menurunnya angka kematian antara lain hasil dari upaya promotif dan preventif yang sudah gencar dilakukan sejak dari Indonesia sampai di Arab Saudi.

Sebelumnya Menteri Agama beserta rombongan terlebih dulu melakukan visitasi ke ruang rawat pasien pria dan wanita di lantai PR. Kemudian ia dan rombongan melanjutkan kunjungannya ke ruang rawat psikiatri di lantai 5. Di kedua lokasi tersebut, ia menyempatkan diri berdialog dengan sejumlah pasien dan tenaga kesehatan. Mereka terlihat senang dengan kunjungan itu. Bahkan, ada yang mengajak sang menteri untuk berswafoto. Tidak lupa Menag Lukman juga memotivasi dan mendoakan para pasien yang ditemuinya.

Berita ini disiarkan oleh Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat, Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemenkes melalui nomor hotline 1500-567, SMS 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat emailkontak[at]kemkes[dot]go[dot]id. “