Getuk Torobasung (Gerakan Serentak untuk Pracimantoro 1 Bebas Pasung )

Getuk Torobasung merupakan salah satu dari ratusan inovasi di Kabupaten Wonogiri yang diinisiasikan oleh UPTD Puskesmas Pracimantoro I. Inovasi Getuk Torobasung sendiri sudah berlangsung sejak tahun 2019 yang bekerjasama dengan masyarakat Kecamatan Pracimantoro terkait kesadaran akan hak-hak penyandang disabilitas dan kesadaran pasung adalah tindakan illegal melalui kegiatan sosialisasi dan promosi media seperti halnya yang dilakukan dengan peneribitan artikel di laman website Kompasiana. Adapun yang melatarbelakangi Inovasi Getuk Torobasung ini adalah masih banyaknya pemasungan pada Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang merupakan pelanggaran hak asasi manusia berat di wilayah UPTD Puskesmas Pracimantoro I. Pemasungan pada ODGJ merupakan pelanggaran HAM berat karena dilakukan pada orang dengan disabilitas yang mengakibatkan tidak mampu mengakses layanan dapat mengurangi tingkat disabilitasnya. Selain itu, tindakan pemasungan berakibat hilangnya kebebasan untuk mengakses layanan yang dapat membantu pemulihan fungsi ODGJ tersebut. Padahal pada dasarnya pelayanan kesehatan jiwa bagi setiap orang dengan gangguan jiwa harus diwujudkan secara optimal serta mengoptimalkan pelayanan kesehatan jiwa bagi setiap orang dan terjaminnya hak orang dengan ganguan jiwa yang berimplikasi pada peningkatan produktivitas sumber daya manusia. Karena masih adanya adanya kasus ODGJ yang tidak dirawat dan ditelantarkan atau bahkan dipasung menimbulkan stigma dan diskriminasi terhadap ODGJ dimasyarakat dan membutuhkan penanganan lintas sektoral. Hal inilah yang melatarbelakangi UPTD Puskesmas Pracimantoro I mengadakan kegiatan inovasi yaitu Gerakan Serentak untuk Pracimantoro Bebas Pasung atau yang lebih dikenal dengan Getuk Torobasung. Dengan adanya SK Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri tahun 2019 menjadi landasan untuk berlangsungnya inovasi ini. Dengan adanya Inovasi Getuk Torobasung ini diharapkan di tahun 2022 mendatang, sudah tidak ada lagi ODGJ yang ditelantarkan atau bahkan dipasung oleh keluarganya di wilayah UPTD Puskesmas Pracimantoro I. Sehingga, dibutuhkan dukungan dan kerjasama dari semua pihak yakni lintas sektoral yang ada di tingkat desa maupun Kecamatan Pracimantoro. Sehingga, adapun tujuan Inovasi Getuk Torobasung adalah untuk mengupayakan Pracimantoro bebas pasung dan untuk memberikan pelayanan kesehatan berupa kunjungan rumah dan pengobatan pada kasus ODGJ sehingga diharapkan memberikan manfaat pada masyarakat agar mengerti tentang penanganan ODGJ dengan benar dan menghilangkan stigma dan diskriminasi yang ada di masyarakat.

Telur Badermas Puskesmas Kismantoro 1

Inovasi Telur Badermas merupakan inovasi yang dibuat oleh UPTD Pukesmas Kismantoro dengan penanggung jawab dari inovasi ini bernama Santosa. Latar belakang diciptakannya inovasi ini karena angka kesakitan dan kematian yang disebabkan oleh Tuberkulosis di Kabupaten Wonogiri sebesar 788 kasus ditahun 2016 dan ditahun 2017 naik sebesar 869 kasus. Tuberculosis sendiri atau biasa dikenal dengan TB merupakan penyakit paru-paru akibat kuman Mycobacterium tuberculosis yang menimbulkan gejala berupa batuk yang berlangsung lama dan biasanya lebih dari 3 minggu. Gejalanya berupa batuk berdahak dan terkadang mengeluarkan darah. Kuman TBC pun tidak hanya menyerang paru-paru, namun juga menyerang tulang, usus, atau kelenjar. TBC umumnya ditularkan dari percikan saliva yang keluar dari penderita TBC ketika bersin atau batuk, serta lebih rentan menular pada seseorang yang memiliki kekebalan tubuh yang rendah seperti penderita HIV. Salah satu strategi dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit TBC adalah dengan penemuan TOSS TB yang diharapkan dapat menggerakkan hati setiap individu bahwa eliminasi TBC merupakan kesadaran bersama yang kemudian UPTD Pukesmas Kismantoro membuat terobosan dalam meningkatkan penemuan suspek TB di masyarakat yang dinamakan dengan Telur Badermas. Inovasi Telur Badermas ini berupa kegiatan kunjungan rumah yang dilakukan oleh kader TB terlatih untuk memberikan informasi mengenai TB sekaligus melakukan skrining gejala TB pada seluruh anggota keluarga yang ditemui saat itu (minimal 1 orang dewasa), dan jika hasil dari skrining ditemukan gejala TB, maka akan diberikan surat rujukan untuk periksa dahak di Fasyankes terdekat melalui Program TB di mayarakat. Adapun tujuan dari inovasi ini adalah : memberikan sosialsasi berupa Gerakan ketuk pintu, alur, teknis pelaksanaan dan pencatatan laporan, meningkatkan kepedulian masyarakat untuk berperan dalam upaya program pencegahan dan pengendalian TBC, memperkuat komitmen dan kepemilikan seluruh pihak untuk berperan dalam upaya program pencegahan dan pengendalian TBC, menyebarluaskan informasi tentang TBC kepada seluruh lapisan masyarakat agar meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat tentang pencegahan penularan, pemeriksaan dan pengobatan TBC yang berkualitas, serta menemukan tersangka ataupun kasus TB di masyarakat. Dengan adanya inovasi ini, diharapkan kasus TBC di Kabupaten Wonogiri dapat menurun seta dapat melakukan pengobatan yang maksimal bagi penderita TBC di Kabupaten Wonogiri agar kembali menjalani kegiatannya secara normal tanpa perlu takut menularkan penyakit TBC bagi lingkungan sekitar.

SI CANTIK (Siswa Pencari Jentik)

Berdasarkan Surat Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI Nomor HK.02.02/IV/30.18/2019 perihal Kesiapsiagaan Peningkatan Kasus DBD, disampaikan bahwa Kabupaten Wonogiri Jumlah Kasus DBD tahun 2019 meningkat sebanyak 59 kasus dibandingkan dengan tahun 2019 24 kasus.  Hingga saat ini peran serta dalam pelaksanaan PSN belum optimal, masih banyak masyarakat yang belum melaksanakan PSN secara rutin. Upaya pencegahan penyakit khususnya yang ditularkan oleh vektor tidak hanya menjadi tanggungjawab instansi pemerintah, tetapi peran serta masyarakat juga perlu ditingkatkan sehinga program pengendalian bisa berhasil secara maksimal, bentuk peran serta dalam mewujudkan lingkungan yang sehat bebas dari vektor penyakit selain upaya menjaga kebersihan bagi setiap masyarakat di lingkungan masing – masing, perlu juga adanya partisipasi aktif dan kepedulian masyarakat sendiri untuk ikut membantu mengawasi lingkungan dari kehidupan binatang atau vektor penyakit. Salah satu bentuk partisipasi dan kepedulian masyarakat terkait dengan pengawasan terhadap kehidupan vektor penyakit khususnya keberadaan nyamuk aedes aegypty adalah keterlibatan masyarakat dalam JUMANTIK. Jumantik merupakan salah satu bentuk pemeberdayaan masyarakat terhadap pengawasan keberadaan dan kehidupan vector khususnya pengawasan terhadap kehidupan jentik nyamuk aedes aegypty yang merupakan vector penyakit demam berdarah. Keberadaan JUMANTIK sangat diperlukan untuk deteksi dini adanya vector. PSN 3M secara rutin dapat membantu menurunkan kepadatan vector, berdampak pada menurunnya kontak antara manusia dengan vector, akhirnya terjadinya penurunan kasus DBD. Kelompok anak sekolah merupakan bagian kelompok masyarakat yang dapat berperan strategis, mengingat jumlahnya sangat banyak sekitar 20% dari jumlah penduduk Indonesia adalah anak sekolah SD, SLTP dan SLTA. Anak Sekolah tersebar diseluruh wilayah, baik daerah perkotaan maupun pedesaan. Peran serta anak sekolah sebagai jumantik dapat digunakan untuk menanamkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada usia dini, yang akan digunakan sebagai dasar pemikiran dan perilakunya dimasa yang akan datang. Selain itu, menggerakan anak sekolah lebih mudah dibandingkan dengan orang dewasa dalam pelaksanaan PSN.  Jika anak sekolah mampu dijadikan agent of change/ agen perubahan untuk memotong rantai jentik penyebab DBD maka Puskesmas Giriwoyo II memiliki program pembinaan dan pembentukan kader siswa pencari jentik di sekolah di wilayah kerja UPTD Puskesmas GIRIWOYO II, Hal ini selaras dengan program Ketua Umum TP PKK Wonogiri Ibu Verawati Joko Sutopo yang memprakarsai program Jumantik Cilik Pada Tahun 2018.

Nyedak Rondo UPTD Puskesmas Baturetno 1

Inovasi Nyedhak Rondo atau Nyetor Dahak Lorone (TBC) Ketondo merupakan inovasi yang didirikan oleh UPTD Pukesmas Baturetno 1. Adanya capaian penemuan suspek TBC pada TW.1 tahun 2019 yang kurang lebih hanya 10% 937) dari target SPM 100% (362) membuat Pukesmas Baturetno 1 berusaha untuk membuat sebuah inovasi dalam rangka menanggulangi permasalahan TBC di Kecamatan Baturetno, yang kemduian ditindaklanjuti dalam rakor lintas sector dan linprog hingga kerjasama dengan pihak desa/kader untuk bersama-sama mendukung tercapainya target SPM dalam rangka menuju tercapainya eliminasi TBC tahun 2050. Tuberculosis yang merupakan fokus permasalahan dari inovasi Nyedhak Rondo merupakan penyakit infeksi pada saluran pernafasan yang disebabkan oleh bakteri Microbakterium Tuberkulosis, dimana bakteri ini merupakan bakteri basil yang kuat sehingga memerlukan waktu lama untuk mengobatinya. Umumnya, bakteri ini lebih sering menginfeksi organ paru-paru (90%) dibandingkan ddengan bagian tubuh lainnya. Kasus TBC di Baturetno 1 pun suspek sebanyak 333 penderita. Program dari inovasi Nyedhak Rondo sebagai bentuk inovasi dalam penanganan kasus TBC di Baturetno 1 pun dengan mengirimkan dahak, maka proses skrining atau pelacakan dari penderita TBC akan dengan mudah ditemukan. Program ini juga melibatkan peran masyarakat melalui pembentukan kader TB daan pemberdayaan kelompok masyarakat. Dalam rangka pelaksanaan kegiatan ini pun memiliki alur yang memudahkan dalam proses kegiatan, diantaranya adalah : Sosialisasi program dan pelatihan kader TB. Sosialisasi ini dijalankan melalui surat serta melalui pertemuan yang dilaksanakan secara berkala. Selain itu, dalam pelatihan kader TB, dilaksanakan dengan merekrut kader TB kemudian memberikan pelatihan mengenai penjaringan suspek TB, kunjungan rumah, pengambilan dan pengiriman dahak. Pelaksanaan uji. Dilakukan dengan tim melakukan uji coba program (simulasi). Pelaksanaan program. Kegiatan point ke 3 ini dilaksanakan ketika hasil evaluasi terhadap uji program dinyatakan efektif dan efisien dalam meningkatkan kepuasan pelanggan dan memperoleh umpan balik pelanggan. Pelaporan. Pelaporan ini berupa tim pelaksana program akan melaporkan kasil kegiatan kepada penanggung jawab inovasi. Monitoring dan evaluasi. Inovasi Nyedhak Rondo pun memiliki berbagai manfaat dan tujuan yaitu : meningkatkan cakupan skrining terhadap penderita Tuberkulosis, meningkatkan peran serta aktif masyarakat dalam memberantas penyakit Tuberkulosis, mengatasi keterbatasan sumber daya kesehatan dalam penanggulangan penyakit tuberculosis, serta meningkatkan indeks kepuasan pelanggan pelayanan rawat inap di UPTD Pukesmas Baturetno 1. Diharapkan program ini terus berjalan sehingga dapat mencapai eliminasi TBC pada tahun 2050 mendatang.

Kak Dedi PTM Puskesmas Pracimantoro 1

Inovasi KAK DEDI PTM merupakan salah satu Inovasi di Kabupaten Wonogiri yang UPTD Puskesmas Pracimantoro I. Latar belakang adanya inovasi ini adalah saat ini tren penyakit di Indonesia mengalami perubahan pola yaitu dari tren penyakit menular ke penyakit tidak menular (PTM). Peningkatan tren PTM ini disebabkan adanya transisi epidemiologi, transisi demografi, dan transisi perilaku. Untuk yang paling sering terjadi adalah karena adanya transisi perilaku gaya hidup yaitu antara lain kurangnya aktivitas fisik, kurangnya konsumsi sayur dan buah, perilaku merokok serta minum minuman keras. Untuk menanggulangi tren PTM yang semakin meningkat pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat (Germas) Hidup Sehat. Kampanye Germas diharapkan menjadi upaya promotif yang sangat efektif dalam menanggulangi PTM. Adapun kegiatan Germas hidup sehat meliputi Akifitas Fisik, Konsumsi Buah dan Sayur setiap hari, dan Cek Kesehatan secara Rutin. Adapun upaya yang bisa dilakukan untuk menghadapi tren tersebut dari kementerian kesehatan menggalakkan kegiatan Posbindu (Pos Pembinaan Terpadu) PTM. Dari kegiatan Posbindu PTM ini diharapkan bisa melakukan deteksi dini faktor resiko PTM dan melakukan upaya pencegahan dan penanganan penderita PTM melalui kegiatan pemeriksaan rutin baik tekanan darah maupun laborat sederhana, pemberian obat, dan kegiatan konseling faktor resiko. Untuk itu, Puskesmas Pracimantoro I mengadakan kegiatan inovasi PTM dengan KAK DEDI PTM atau Kartu deteksi Dini PTM. Untuk kasus PTM yang paling banyak terjadi adalah penyakit hipertensi sebesar 52% (data dari hasil kunjungan rumah PIS PK). Alur untuk menggunakan inovasi KAK DEDI PTM ini sangat mudah, yaitu hanya dengan mengisi kartu ini maka akan dapat dilihat dengan cepat apakah seseorang mempunyai faktor resiko untuk terkena PTM. Kegiatan inovasi KAK DEDI PTM ini meneruskan kegiatan PMI Wonogiri yang disponsori oleh PMI Amerika (Amcross) yang dulu sudah dilaksanakan, namun tidak bisa berlanjut karena kontrak dengan PMI Amerika sudah selesai. Jadi inovasi KAK DEDI PTM ini, UPTD Puskesmas Pracimantoro I berusaha membuat kartu deteksi dini dalam kegiatan Posbindu PTM. Adapun tujuan dengan diadakannya KAK DEDI PTM ini adalah melakukan deteksi dini terhadap faktor resiko penyakit tidak menular serta dihadapkan mampu memberikan manfaat sebagai salah satu dasar pembuatan kajian dalam upaya pencegahan dan pengurangan kasus Penyakit Tidak Menular di wilayah kerja UPTD Pracimantoro I. Kegiatan inovasi KAK DEDIPTM dilaksanakan setelah terbitnya Surat Keputusan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri di tahun 2019. Hasil pengisian Kartu KAK DEDIPTM dilaporkan oleh petugas PTM puskesmas. Kemudian petugas puskesmas melakukan tindak lanjut terhadap hasiil dari penilaian KAK DEDI PTM.