Deklarasi ODF dan Germas Kabupaten Wonogiri

   Deklarasi ODF dan GERMAS Kab. Wonogiri

Pada tanggal 14 November 2017  bertepatan dengan peringatan HKN (Hari Kesehatan Nasional) kabupaten Wonogiri mendeklarasikan bahwa Kabupaten Wonogiri sudah bebas dari Buang Air Besar Sembarangan. Deklarasi ODF ( Open Defecation Free) atau Stop Buang Air Besar Sembarangan bersama dengan Program Germas ( Gerakan Masyarakat Hidup Sehat).

Penandatanganan Prasasti Deklarasi ODF oleh Wakil Bupati Wonogiri.

                Upaya Stop Buang Air Besar Sembarangan merupakan pilar ke-1 STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat).Sedangkan untuk Pilar ke-2 adalah CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun), Pilar Ke-3 yaitu Pengelolaan Air Minum dan Makan Rumah Tangga, Pilar ke – 4 yaitu Pengelolaan Sampah Rumah Tangga, Pilar ke -5 yaitu Pengelolaan Limbah Cair Rumah Tangga.

Penandatanganan Komitmen Masyarakat Wonogiri Tidak BABS yang Diwakili Oleh Camat Seluruh KAb. Wonogiri

                Germas adalah Gerakan Masyarakat Hidup Sehat Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) merupakan suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku seha tuntuk meningkatkan kualitas hidup. GERMAS dapat dilakukan dengan cara:

  1. Melakukan aktifitas fisik,
  2. Mengonsumsi sayur dan buah,
  3. Tidak merokok,
  4. Tidak mengonsumsi alkohol,
  5. Memeriksa kesehatan secara rutin,
  6. Membersihkan lingkungan, dan
  7. Menggunakan Jamban

 

Para Tamu Undangan Kegiatan Deklarasi ODF dan GERMAS

 

Panitia Kegiatan Deklarasi ODF dan GERMAS Kabupaten Wonogiri

 

 

Kenapa Perlu Germas…????

  Indonesia tengah menghadapi tantangan besar yakni masalah kesehatan triple burden, karena masih adanya penyakit infeksi, meningkatnya penyakit tidak menular (PTM) dan penyakit-penyakit yang seharusnya sudah teratasi muncul kembali. Pada era 1990, penyakit menular seperti ISPA, Tuberkulosis dan Diare merupakan penyakit terbanyak dalam pelayanan kesehatan. Namun, perubahan gaya hidup masyarakat menjadi salah satu penyebab terjadinya pergeseran pola penyakit (transisi epidemiologi). Tahun 2015, PTM seperti Stroke, Penyakit Jantung Koroner (PJK), Kanker dan Diabetes justru menduduki peringkat tertinggi.
Meningkatnya PTM dapat menurunkan produktivitas sumber daya manusia, bahkan kualitas generasi bangsa. Hal ini berdampak pula pada besarnya beban pemerintah karena penanganan PTM membutuhkan biaya yang besar. Pada akhirnya, kesehatan akan sangat mempengaruhi pembangunan sosial dan ekonomi.
Oleh karena itu, Presiden menetapkan Instruksi Presiden Nomor : 1 Tahun 2017 Tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), secara khusus mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesehatan melalui gerakan masyarakat hidup sehat (GERMAS) guna mewujudkan Indonesia sehat. Hal ini sesuai dengan kepedulian pemerintah dalam mewujudkan kesehatan masyarakat tertuang dalam program NAWA CITA. GERMAS harus dimulai dari keluarga, karena keluarga adalah bagian terkecil dari masyarakat yang membentuk kepribadian.
Tujuan GERMAS adalah agar masyarakat berperilaku sehat, sehingga berdampak pada :
1) Kesehatan terjaga
2) Produktif
3) Lingkungan bersih
4) Biaya berobat berkurang
Pada tahap awal, GERMAS dimulai dengan berfokus pada kegiatan-kegiatan:
1) Aktivitas fisik 30 menit per hari,
2) Buah dan sayur, untuk dikonsumsi setiap hari
3) Cek kesehatan secara rutin.
4) Diberi Asi Eksklusif, bagi bayi usia 0 – 6 bulan
5) Enyahkan Asap rokok
6) Fokus pada mencegah stunting

AYO HIDUP SEHAT- MULAI DARI KITA
SEHAT ITU INDAH – SEHAT ITU NIKMAT – SEHAT ITU HEMAT – SEHAT ITU SEGALANYA
SALAM GERMAS
“SEHAT… BUGAR…PRODUKTIF” (Tyas)

Cara Pengujian Garam Beryodium

  1. DENGAN CARA SEDERHANA

Dengan menggunakan singkong :

  • Kupas dan parut singkong yg masih segar
  • Tuangkan 1 sdm perasan singkong parut tanpa dicampur air ke dlm wadah yg kering dan bersih
  • Tambahkan 4-6 sdt penuh garam yg hendak diuji
  • Lalu tambahkan 2 sdt cuka biang, aduk rata, kmdn biarkan bbrp menit, bila timbul warna biru keunguan berarti garam tsb mgd iodium
  1. DENGAN MENGGUNAKAN IODINA TEST /RAPID TEST
  • Siapkan 1 sdm garam yang akan diuji kadar yodiumny
  • Lalu letakkan pada wadah yang bersih
  • Tetesi garam tersebut dengan iodina test sebanyak 1-2 tetes
  • Bila garam berubah warna menjadi biru tua maka garam tersebut mengandung yodium
  1. DENGAN CARA TITRASI
  • Timbang 25 gr garam, lalu haluskan
  • Masukkan garam tersebut ke tabung Erlen-meyer lalu tambahkan 100 ml air suling atau air matang ke dalam gelas erlenmeyer dan larutkan
  • Tambahkan reagen A dan reagen B masing-masing ± 5 tetes, bila timbul warna biru nyata, berarti garam mengandung KIO3
  • Hilangkan warna biru dengan memberikan larutan standar sedikit demi sedikit memakai buret/spuit/tabung suntik sambil dikocok sampai warna biru/ungu menjadi lebih muda dan warna biru/ungunya hilang

Kadar KIA3 (ppm) :

  • Banyaknya larutan standar yang dipakai untuk menghilangkan warna biru dikalikan faktor larutan standar
  • Faktor pengali larutan standar adalah 7,27

Semoga bermanfaat. (Tyas)

Jampersal salah satu upaya untuk munurunkan AKI dan AKB

Untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dengan menurunkan angka kematian bayi dan ibu yang melahirkan, pemerintah meluncurkan program Jaminan Persalinan (Jampersal) dengan tujuan meningkatkan akses pelayanan kesehatan bagi ibu hamil, bersalin dan nifas serta bayi baru lahir ke Fasilitas pelayanan kesehatan yang kompeten. Continue reading →

ORIENTASI ASUHAN GIZI PUSKESMAS DAN ELEKTRONIK PENCATATAN DAN PELAPORAN GIZI BERBASIS MASYARAKAT(E-PPGBM) DI KABUPATEN WONOGIRI TAHUN 2018

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (BAB VIII) mengamanatkan bahwa Upaya Perbaikan Gizi bertujuan untuk meningkatkan mutu gizi perseorangan dan masyarakat, antara lain melalui perbaikan pola konsumsi makanan, perbaikan perilaku sadar gizi, dan peningkatan akses dan mutu pelayanan gizi dan kesehatan sesuai dengan kemajuan ilmu dan teknologi. Upaya pembinaan gizi dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan sesuai dengan perkembangan masalah gizi, penahapan dan prioritas pembangunan nasional.

Perkembangan masalah gizi di Indonesia semakin kompleks saat ini. Selain masih menghadapi masalah kekurangan gizi, masalah kelebihan gizi juga menjadi persoalan yang harus ditangani dengan serius. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2015 – 2019, perbaikan status gizi masyarakat merupakan salah satu prioritas dengan menurunkan prevalensi balita gizi kurang (underweight) menjadi 17 % dan prevalensi balita pendek (stunting) menjadi 28 % pada tahun 2019. Hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2016 menunjukkan prevalensi balita pendek 29,0% , gizi kurang  17,8 % dan balita kurus 11,1 %. Sementara  hasil PSG 2016 menunjukkan bahwa ibu hamil dengan resiko kurang energi kronis (KEK) sebesar 16,2 %, meningkat 2,9 % dibansingkan tahun 2015. Upaya pembinaan perbaikan gizi dilaksanakan secara bertahap dan berkesinambungan sesuai dengan perkembangan masalah gizi, pentahapan dan prioritas pembangunan nasional.

Tujuan dari diadakan pertemuan ini adalah Meningkatkan pengetahuan, pemahaman dan ketrampilan peserta dalam pelaksanaan asuhan gizi puskesmas dalam pelaksanaan E-PPGBM  khususnya dari puskesmas sehingga dapat berjalan dengan lancar dan petugas dapat memahami tentang kebiajakan pelayanan Gizi di Puskesmas dan E-PPGBM.

untuk materi-materi E-PPGBM bisa di download pada page dibawah ini.