Gema Stunting (Gerakan Masyarakat Sinergi Tuntaskan Stunting) Puskesmas Jatipurno

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. Kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Padahal genetika merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik), dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang dapat dicegah.

Salah satu fokus pemerintah saat ini adalah pencegahan stunting. Upaya ini bertujuan agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal, dengan disertai kemampuan   emosional, sosial, dan fisik yang siap untuk belajar, serta mampu berinovasi dan berkompetisi di tingkat global.

Untuk mendukung fokus pemerintah dalam pencegahan stunting hal pertama yang kita butuhkan adalah data balita stunting. Namun untuk mendapatkan data balita stunting kami mengalami kesulitan, yang pertama yaitu sebagian besar posyandu di kecamatan jatipurno tidak memiliki peralatan antropometri yang sesuai standar terutama alat ukur tinggi badan dan panjang badan. Kesulitan kami yang kedua yaitu kader kesehatan yang bertugas di posyandu belum memiliki keterampilan untuk mengukur antropometri balita (terutama tinggi badan dan panjang badan) dengan baik dan benar. Kesulitan kami yang ketiga yaitu permasalahan gizi stunting masih asing di mata masyarakat luas termasuk para pemegang kepentingan dikecamatan Jatipurno.

Oleh karena itu kami puskesmas jatipurno melalui program gizinya membuat inovasi pelayanan masyarakat untuk membantu fokus pemerintah dalam pencegahan stunting dan menuntaskan masalah stunting di wilayah kerja UPTD Puskesmas Jatipurno. Kami membuat rangkaian kegiatan yang diberi nama “GEMA STUNTING” yang memiliki arti “Gerakan Masyarakat Sinergi Tuntaskan Stunting”. Rangkaian kegiatan ini kami buat pada akhir tahun 2019 dengan harapan seluruh lapisan masyarakat dapat berperan serta dalam pencegahan dan penaggulangan masalah stunting.

Demikian ringkasan tentang program Gema Stunting kami, kegiatan kegiatan program ini tentunya akan terus kami upgrade dan evaluasi secara berkala menyesuaikan dengan masalah dan kebutuhan yang ada di masyarakat.

Bareng-bareng Kita Golek Riak (BATAGOR)Puskesmas Pracimantoro II

Kesehatan masyarakat memiliki peranan penting dalam upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Kondisi umum kesehatan Indonesia dipengaruhi oleh faktor lingkungan, perilaku dan pelayanan kesehatan. Terdapat berbagai macam penyakit yang masih menjadi permasalahan sehingga masyarakat beranggapan hal tersebut dapat menurunkan kualitas kesehatan baik penyakit menular maupun penyakit tidak menular. Salah satu penyakit menular yang masih menjadi permasalahan di Indonesia bahkan di seluruh dunia adalah Tuberkulosis. Tuberkulosis yang selanjutnya disingkat TB adalah salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri  Mycobacterium tuberculosis yang dapat menyerang paru dan organ lainnya. TB merupakan satu dari 10 penyebab kematian dan penyebab utama agen infeksius. Secara global pada Tahun 2017 TB menyebabkan sekitar 1,3 juta kematian. Diperkirakan terdapat 10 juta kasus TB baru atau setara dengan 133 kasus per 100.000 penduduk di Dunia. Jumlah kasus TB di Indonesia menurut WHO tahun 2015 diperkirakan adalah 1 juta kasus TB baru pertahun (399 per 100.000 penduduk) dengan 100.000 kematian pertahun (41 per 100.000 penduduk).

Penemuan kasus suspek TB merupakan langkah paling awal ditemukannya kasus TB aktif di masyarakat  sehingga ia berperan sangat penting dalam mewujudkan pelayanan TB yang sesuai standar bagi masyarakat. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan  RI Nomor 43 Tahun 2016 mengenai Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang Kesehatan, Pelayanan Kesehatan bagi penderita TB yang sesuai standar merupakan salah satu jenis pelayanan minimal yang harus dilaksanakan pada setiap Pemerintahan Kab/Kota. lnovasi BATAGOR (Bareng-bareng Kita Golek Riak) dibangun atas dasar capaian angka penemuan kasus suspek TB di UPTD Puskesmas Pracimantoro II yang cenderung mengalami penurunan dari Tahun 2017-2020.  “golekriak” atau dalam bahasa Indonesia berarti mencari dahak adalah satu-satunya upaya yang dapat dilakukan Puskesmas dalam rangka menemukan kasus suspek dan kasus TB aktif di masyarakat. BATAGOR dilaksanakan dengan memberdayakan peran kader kesehatan di masing-masing desa dalam membantu menemukan pasien suspek Tuberkulosis di masyarakat sekitarnya melalui pemberian edukasi mengenai penyakit TB, konseling pengumpulan sampel dahak untuk diperiksakan serta membantu pengiriman sampel dahak ke Puskesmas.

Sebar Jamban Sehat (Sejam Sehat) Puskesmas Nguntoronadi I

Jamban merupakan sarana sanitasi dasar yang harus dimiliki setiap rumah tangga. Masyarakat sadar dan mengerti arti pentingnya mempunyai jamban sendiri di rumah. Alasan utama yang selalu diungkapkan masyarakat mengapa sampai saat ini belum memiliki jamban keluarga yang sehat adalah tidak atau belum mempunyai dana. Melihat faktor kenyataan tersebut, sebenarnya tidak adanya jamban di setiap rumah tangga bukan semata faktor ekonomi, tetapi lebih kepada adanya kesedaran masyarakat untuk menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Pembangunan jamban sehat permanen dari Dana Alokasi Desa (DAD) belum semua desa merencanakan alokasi stimulan jamban. Apalagi untuk kelurahan yang penganggarannya terbatas, sehingga penmbangunan jamban sehat permanen belum merata diseluruh wilayah kerja UPTD Puskesmas Nguntoronadi I. Oleh sebab itu muncul inovasi agar pembangunan jamban sehat lebih cepat terealisasi dengan memanfaatkan sumber dana yang berasal dari keikhlasan karyawan puskesmas atau sumber dana lain yang berasal dari pihak luar.

Dengan semakin bertambahnya jumlah jamban sehat diharapkan kualitas dan akses jamban sehat permanen semakin meningkat, yang akan berdampak pada menurunnya angka kesakitan yang disebabkan oleh sanitasi yang buruk.

Gerdu CTPS Puskesmas Puhpelem

Inovasi Gerdu CTPS (Gerakan Dua Puluh Satu Hari Cuci Tangan Pakai Sabun) merupakan inovasi yang diinisiasi oleh UPTD Puskesmas Puhpelem sejak tahun 2019. Adapun latar belakang lahirnya inovasi ini diawali dari salah satu faktor pendukung kemajuan SDM di bidang pendidikan adalah kesehatan individual pelajar. Mewujudkan kesehatan siswa yaitu dengan cara menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di lingkungan sekolahnya. Bila para siswa menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di lingkungan sekolahnya, upaya peningkatan derajat kesehatan di sekolah akan terwujud. Cuci tangan pakai sabun (CTPS) merupakan perilaku sehat yang telah terbukti secara ilmiah dapat mencegah penyebaran penyakit menular seperti diare, infeksi saluran pernapasan (ISPA), flu burung, dan juga influenza. Jumlah anak usia sekolah yang cukup besar merupakan masa keemasan untuk menanamkan PHBS sehingga anak sekolah berpotensi sebagai agen perubahan untuk mempromosikan PHBS, baik dilingkungan sekolah, keluarga maupun masyarakat. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sekolah adalah upaya untuk memberdayakan siswa, guru dan masyarakat lingkungan sekolah untuk mau melakukan pola hidup sehat untuk menciptakan sekolah sehat. Salah satu indikator PHBS sekolah yaitu mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir. Dari 17 sekolah yang ada di wilayah kerja UPTD Puskesmas Puhpelem, cakupan PHBS Sekolah dengan strata utama sebanyak 9 sekolah (53%), masih dibawah target yang ditetapkan (60%), sedangkan 8 sekolah lainnya masih berstrata pratama dan madya. Oleh karena itu, melalui kegiatan inovasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran siswa menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di sekolah serta dapat meningkatkan cakupan PHBS sekolah dengan strata utama. Berdasarkan pertimbangan di atas, maka perlu dilakukan terobosan untuk meningkatkan strata PHBS Sekolah melalui program inovasi “GERDU CTPS”. GERDU CTPS merupakan singkatan dari GERakan DUa puluh satu hari Cuci Tangan Pakai Sabun. Gerakan ini bertujuan untuk membentuk kebiasaan sehat yang permanen pada siswa-siswi pada waktu penting yaitu mandi pakai sabun, sebelum makan pagi, makan siang dan makan sore, serta setelah dari toilet dengan melakukan CTPS (Cuci Tangan Pakai Sabun) yang benar selama 21 hari secara terus menerus tanpa putus agar menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun alur perencanaan inovasi dimulai dengan konsultasi dengan Kepala Puskesmas yang selanjutnya dilakukan koordinasi dengan tim kegiatan inti Gerdu CTPS. Setelah koordinasi dengan tim kegiatan, maka kegiatan yang selanjutnya dilakukan adalah penyuluhan terkait Inovasi Gerdu CTPS ke sekolah-sekolah dasar yang anak di Kecamatan Puhpelem yang didalamnya terdapat penjelasan pengisian kalender CTPS dan dilanjutkan dengan praktek langkah-langkah dalam inovasi Gerdu CTPS. Kegiatan penyuhan di sekolah dasar ditutup dengan pemasangan poster terkait inovasi Gerdu CTPS.

SEGO SAKCETING (Sesarengan warga beraksi cegah stunting)

Inovasi Sego Sak Ceting atau Sesarengan Wargo Beraksi Cegah Stunting merupakan sebuah inovasi yang berfokus terhadap upaya pencegahan stunting dimana pada saat ini, dimasa pertumbuhan teknologi yang mengharuskan generasi penerus bangsa untuk cerdas, kreatif, dan produktif, maka diperlukan pula tumbuh kembang dengan baik serta sehat dan memiliki asupan makanan yang cukup dan bergizi. Stunting sendiri merupakan keadaan dimana anak-anak terlahir dan tumbuh dalam situasi kekurangan gizi kronis, yang menyebabkan anak menjadi kerdil (stunting). Kekerdilan pada anak mencerminkan kondisi gagal tumbuh pada balita. Hal ini dikarenakan adanya kekurangan gizi yang terjadi sejak bayi dalam kandungan hingga usia dua tahun. Dengan adanya keadaan inilah yang kemudian oleh UPTD Pukesmas Giriwoyo 1 mengupayakan langkah strategis dalam mencegah stunting yang dimulai dengan pertemuan lintas sector, PKK, dunia usaha, Kepala Desa dan Kelurahan, serta dipimpin langsung oleh Camat Giriwoyo menghasilkan keputusan menamai program ini dengan nama “Sego Sak Ceting” atau “Sesarengan Wargo Beraksi Cegah Stunting”. Upaya yang dilakukan dalam inovasi ini adalah dengan memberikan inovasi kepada masyarakat dengan memanfaatkan lahan pekarangan dengan ternak lele/ayam/puyuh dan sayur hidup. Dengan memberikan stimulant tempat ternak lele dari bis beton dan bibit sayuran, maka ketika telah mencapai waktu panen, hasil panen tersebut dapat dimanfaatkan sebagai makanan dan menambah nilai gizi bagi bayi dan balita. Sebagai bentuk perhatian terhadap pertumbuhan anak dalam mencegah stunting, kunci pencegahannya adalah ketersediaan gizi yang cukup bagi remaja, ibu hamil, bayi, dan balita dimana lahan pekarangan milik masyarakat yang tidak dimanfaatkan lah yang menjadi sarana dalam memenuhi sumber gizi masyarakat. Pelaksanaan inovasi ini tentu memiliki tujuan yaitu mencegah stunting di wilayah kerja UPTD Pukesmas Giriwoyo I. Selain itu, inovasi ini juga bertujuan dalam memberikan pengetahuan bagi masyarakat mengenai makanan-makanan yang mengandung nilai gizi tinggi dan yang baik bagi pertumbuhan balita yang sedang mengalami pertumbuhan emas. Bagaimanapun juga, sangat penting untuk memperhatikan makanan yang bergizi yang akan dikonsumsi oleh anak dan balita serta didukung dengan memberikan ASI Ekslusif sejak bayi lahir hingga mendekati usia yang cukup untuk diberikan Makanan Pendamping ASI (MPASI).