Pelatihan Sanitasi bagi Pengelola Industri Rumah Tangga Pangan di Dinas Kesehatan Kab. Wonogiri tahun 2018

Dalam upaya pengawasan hygiene dan sanitasi Industri Rumah Tangga Pangan (IRT-P) pada Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri tahun 2018, maka dilaksanakan Pelatihan Sanitasi IRT-P bagi pengelola Industi Rumah Tangga Pangan yang dihadiri oleh peserta (pengelola IRTP) pada hari Senin, tanggal 29 Oktober 2018 pada jam 08.30 sampai jam 12.00 di ruang Mawar DKK Wonogiri.

Bapak Kepala Bidang, dan para Narasumber.

Total peserta yang diundang untuk pelatihan ada 50 peserta yang berasal dari wilayah kerja puskesmas Wonogiri II, puskesmas Wonogiri 1, puskesmas Pracimantoro II, puskesmas Giritontro, puskesmas Pracimantoro I, puskesmas Paranggupito, puskesmas Batuwarno, puskesmas Girimarto, puskesmas Jatisrono I, puskesmas Ngadirojo, puskesmas Tirtomoyo II, puskesmas Nguntoronadi I, puskesmas Jatiroto, puskesmas Purwantoro I, puskesmas Tirtomoyo I, puskesmas Selogiri, puskesmas giriwoyo II, puskesmas Eromoko i, puskesmas Baturetno I, dan puskesmas Jatipurno.

Peserta pelatihan pengelola Insudtri Rumah Tangga Pangan.

Acara dibuka oleh sambutan dari bapak Kepala Dinas Kesehatan yang pada kesempatan kali ini diwakilkan oleh bapak Kepala bidang Kesehatan masyarakat yaitu bapak Mardiyanto, SKM, M.Kes. yang kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi dari bapak Suwarsono, SKM, M.Si yatu Kepala seksi Farmasi, makanan dan minuman tentang pengelolaan industri rumah tangga pangan khususnya di proses pengelolaan bahan makanan, produksi makanan, pengemasan makanan serta penyakit yang dapat ditimbulkan karena kesalahan dalam mengolah makanan. Untuk narasumber selanjutnya yaitu pemaparan dari bapak Sumarsono Purwadi, SKM, MM tentang sanitasi dan hygiene dalam mengolah dan memproduksi makanan.

Narasumber dari Kepala Seksi Farmasi, Makanan, dan Minuman Bapak Suwarsono, SKM. M.Si saat mengisi sesi pertama.

 

Narasumber dari Kepala Seksi Kesehatan Lingkungan bapak Sumarsono Purwadi, SKM, MM. saat sesi kedua.

 

Kunjungan Lapangan ( Studi Banding ) STBM Kabupaten Grobogan ke Kabupaten Wonogiri

Rombongan Studi banding Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan bersama Kepala Desa Bulusulur.

Sehubungan dengan peningkatan kapasitas dan memberikan wawasan kepada petugas kesehatan lingkungan (sanitarian) Puskesmas Se-Kabupaten Grobogan dalam mewujudkan Desa STBM di Kabupaten Grobogan, maka Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan beserta Puskesmas mengadakan Kunjungan Lapangan di Desa Bulusulur Kecamatan Wonogiri Kabupaten Wonogiri…

Acara Studi Banding diadakan di Di Pendopo Taman Arjuna Desa Bulusulur

Kunjungan Lapangan (studi banding) dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 24 Oktober 2018 di Taman Arjuna ( kolam keceh) Desa Bulusulur, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri. Acara Studi Banding di desa Bulusulur dihadiri oleh peserta dari Kabupaten Grobogan yang terdiri dari 30 Sanitarian Puskesmas, bapak Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Grobogan, bapak Kepala Bidang Yankes DKK Grobogan, dan Ibu Kepala Seksi dan staff Kesehatan Lingkungan Kesehatan Kerja dan Olah Raga DKK Grobogan. Serta tamu undangan yaitu bapak camat Wonogiri, bapak Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri yang diwakili oleh bapak Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat DKK Wonogiri, bapak Kepala Seksi dan Staff Kesehatan Lingkungan Kesehatan Kerja dan Olah raga DKK Wonogiri, Perwakilan dari Puskesmas Wonogiri 1, Babinsa Desa Bulusulur, Perangkat Desa, dan kader Desa Bulusulur.

Sambutan dari bapak Kepala Bidang Kesmas Bapak Mardiyanto, SKM., M.Kes. Bapak Camat Wonogiri. Drs. Slameto Sudibyo. serta penyampaian maksud dan tujuan oleh Bapak Sekdin DKK Grobogan dr. Slamet Widodo.

Selanjutnya sambutan selamat datang dari bapak Kabid Kesmas Mardiyanto, SKM,MKes dalam sambutan beliau menjelaskan tentang STBM di Kabupaten Wonogiri yang dimulai tahun 2008 dan desa yang ODF untuk pertama kali adalah desa Pule di Kecamatan Selogiri, pada tahun 2009 telah ada kecamatan yang ODF untuk pertama kalinya yaitu kecamatan Puhpelem, lalu pada tahun 2017 Desa Bulusulur sebagai desa STBM pertama di Kabupaten Wonogiri yang juga bersamaan dengan Deklarasi Kabupaten ODF di Kabupaten Wonogiri pada tahun 2017. Sambutan selanjutnya yaitu dari beliau bapak  Drs. Slameto Sudibyo camat Wonogiri bahwa desa bulsulur adalah desa yang mempunyai banyak inovasi. Hampir setiap program pemerintah bisa dilaksanakan dan dikembangkan secara maksimal, sehingga kesejahteraan masyarakat desa bisa diwujudkan. Setelah kedua sambutan dari bapak kabid dan bapak camat maka dilanjutkan penyampaian maksud dan tujuan dari Sekretaris DKK Grobogan dr. Slamet Widodo bahwa kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kapasitas sanitarian se Kabupaten Grobogan, guna mewujudkan kabupaten Grobogan menuju STBM lima Pilar. Dengan mengkaji yang dilakukan oleh desa Bulusulur diharapkan Grobogan juga mampu menuju STBM lima pilar.

paparan Bapak Dwi Santoso, ST. tentang STBM di Desa Bulusulur

Setelah sambutan dan penyampaian maksud tujuan maka acara dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan kemudian penampilan senam STBM dari kader desa Bulusulur. Dilanjutkan dengan presentasi dari Kepala Desa Bulusulur Bapak Dwi Prasetyo, ST. Presentasi bapak Dwi Prasetyo adalah perjalanan desa Bulusulur dalam mencapai status desa 5 pilar STBM. Desa Bulusulusr menjadi Desa ODF pada tahun 2015, tak cukup sampai ODF saja desa Bulusulur semakin mengembangkan inovasi program STBM dengan adanya STBM 5 pilar plus, pilar plus nya adalah Pemberantasan sarang Nyamuk (PSN) dan penanaman Apotek Hidup. Bapak Dwi Prasetyo juga merupakan peraih Juara 1 Duta Lingkungan Sehat tingkat Provinsi Jawa Tengah di tahun 2017.

sesi tanya jawab antara peserta studi banding dan bapak kepala desa

Acara selanjutnya adalah diadakannya sesi diskusi dan tanya jawab oleh bapak Dwi Prasetyo dan peserta studi banding dan kemudian dilanjutkan dengan ISHOMA. Setelah ISHOMA maka dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke dusun Kedungsono. Acara terakhir yaitu penyerahan kenang – kenangan antara kabupaten Grobogan dan Kabupaten Wonogiri.

Penyerahan kenang-kenangan dari kabupaten Wonogiri ke Kabupaten Grobogan yang diwakili oleh bapak Kabid Kesmas DKK dan bapak Sekdin DKK Grobogan.

 

Senam STBM oleh kader Desa Bulusulur.

 

STBM KABUPATEN WONOGIRI (CAPAIAN AKSES)

STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) merupakan pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan. Program STBM memiliki indikator outcome dan output. Indikator outcome STBM yaitu menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku.

Sedangkan indikator output STBM adalah sebagai berikut :

  1. Setiap individu dan komunitas mempunyai akses terhadap sarana sanitasi dasar sehingga dapat mewujudkan komunitas yang bebas dari buang air di sembarang tempat (ODF).
  2. Setiap rumah tangga telah menerapkan pengelolaan air minum dan makanan yang aman di rumah tangga.
  3. Setiap rumah tangga dan sarana pelayanan umum dalam suatu komunitas (seperti sekolah, kantor, rumah makan, puskesmas, pasar, terminal) tersedia fasilitas cuci tangan (air, sabun, sarana cuci tangan), sehingga semua orang mencuci tangan dengan benar.
  4. Setiap rumah tangga mengelola limbahnya dengan benar.
  5. Setiap rumah tangga mengelola sampahnya dengan benar.

PILAR 1

Kabupaten Wonogiri berhasil menjadi Kabupaten yang bebas dari Buang Air Besar Sembarangan dan sudah di deklarasikan pada kegiatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) tahun 2017. Capaian Akses Bebas BABS yaitu 100%, bahwa kab Wonogiri sudah bebas dari Buang Air Besar Sembarangan, Jamban Sehat Permanen (JSP) yaitu 69,2%, Jamban Sehat Semi Permanen (JSSP) yaitu 21,3%, Akses Jamban Sharing/Nunut yaitu 9,4%.

Capaian Akses STBM Kabupaten Wonogiri TH. 2018 (Web STBM-Indonesia)
Akses Jamban Sehat Permanen, Jamban Sehat Semi Permanen, Jamban Sharing, dan Buang Air Besar Sembarangan

PILAR 2

Perilaku CTPS yang diterapkan di kehidupan sehari-hari dapat melindungi diri dari berbagai kuman dan penyakit. Karena ketika kita mencuci tangan dan menggunakan sabun maka sabun dapat membantu menghilangkan dan membunuh kuman penyakit dan melepaskan kotoran dari kulit.

Upaya yang dilakukan yaitu dengan berkampanye CTPS di masyarakat, khususnya untuk anak sekolah. Karena membiasakan CTPS harus dimulai sejak kecil. Sebagian besar masyarakat Kabupaten Wonogiri sudah menerapkan CTPS dalam kehidupan sehari-hari. Pada tanggal 15 Oktober 2018 beberapa kecamatan di Wonogiri mengadakan Gerakan Cuci Tangan Pakai Sabun bertepatan dengan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun 15 Oktober 2018.

Menerapkan kebiasaan CTPS sejak dini kepada anak-anak.
Gerakan CTPS dalam rangka memperingati Hari CTPS tanggal 15 Oktober 2018

PILAR 3

Mengelola air minum dan makanan dengan baik yaitu dengan mengolah air yang akan diminum terlebeih dahulu dengan cara direbus, disaring, maupun menggunakan air minum kemasan. Serta Selalu menjaga kebersihan wadah dan penyimpanan air minum.  Mengelola makanan dengan baik dengan cara menyimpan bahan makanan di tempat yang bersih serta menggunakan bahan makanan yang masih segar untuk dimasak. Selalu mencucui tangan terlebih dahulu saat akan mengolah makanan. Menyajikan makananan yang telah dimasak di tempat yang bersih dan tertutup terhindar dari lalat dan kuman penyebab penyakit.

Salah satu contoh pengunaan tudung saji agar makanan yang disajikan terhindar dari kuman dan vektor penyakit.

 

Instalansi air bersih di Desa untuk mencukupi kebutuhan

PILAR 4

Mengelola Sampah padat rumah tangga dengan baik dan aman, dengan cara dipilah terlebih dahulu yaitu memisahkan sampah organic dan an-organic. Sampah an-organik dapat didaur ulang menjadi barang yang masih dapat digunakan, seperti yang dihasilkan oleh bank sampah yang dikelola oleh masyarakat yaitu bungkus shampoo dapat dijadikan untuk taplak meja atau tas belanja. Untuk pengelolaan sampah organic bisa ditimbun untuk dijadikan sebagai pupuk, seperti sampah sampah daun dan sisa makanan. Masyarakat wonogiri masih banyak yang membuang samah dengan cara dibakar terutama di daerah pedesaan.

Kebiasaaan Buang Sampah masyarakat di Kabupaten Wonogiri.

 

Masyarakat Wonogiri mengelola Bank Sampah.

PILAR 5

Pilar ke 5 STBM adalah pengelolaan limbah cair rumah tangga. Pengelolaan limbah cair rumah tangga yaitu tidak adanya limbah cair dari kamar mandi maupun sumber lainnya yang menggenang dan menyebabkan comberan di lingkungan sekitar rumah. Limbah cair dapat dikelola dengan membuat saluran/selokan, membuat Saluran Penampungan Air Limbah (SPAL), atau bisa juga untuk siram tanaman dan air minum ternak.

Kebiasaan pembuangan air limbah masyarakat kabupaten Wonogiri.

 

SPAL masyarakat di desa Bulusulur, Kec. Wonogiri.
Capaian 5 Pilar STBM Sementara Kab. Wonogiri tahun 2018 (sumber data dari Puskesmas)
Proporsi status Desa Kab. Wonogiri TH. 2012-2018
Hubungan akses jamban dengan insiden penyakit diare di Kabupaten Wonogiri TH. 2011-2016

 

 

Cara Pengujian Garam Beryodium

  1. DENGAN CARA SEDERHANA

Dengan menggunakan singkong :

  • Kupas dan parut singkong yg masih segar
  • Tuangkan 1 sdm perasan singkong parut tanpa dicampur air ke dlm wadah yg kering dan bersih
  • Tambahkan 4-6 sdt penuh garam yg hendak diuji
  • Lalu tambahkan 2 sdt cuka biang, aduk rata, kmdn biarkan bbrp menit, bila timbul warna biru keunguan berarti garam tsb mgd iodium
  1. DENGAN MENGGUNAKAN IODINA TEST /RAPID TEST
  • Siapkan 1 sdm garam yang akan diuji kadar yodiumny
  • Lalu letakkan pada wadah yang bersih
  • Tetesi garam tersebut dengan iodina test sebanyak 1-2 tetes
  • Bila garam berubah warna menjadi biru tua maka garam tersebut mengandung yodium
  1. DENGAN CARA TITRASI
  • Timbang 25 gr garam, lalu haluskan
  • Masukkan garam tersebut ke tabung Erlen-meyer lalu tambahkan 100 ml air suling atau air matang ke dalam gelas erlenmeyer dan larutkan
  • Tambahkan reagen A dan reagen B masing-masing ± 5 tetes, bila timbul warna biru nyata, berarti garam mengandung KIO3
  • Hilangkan warna biru dengan memberikan larutan standar sedikit demi sedikit memakai buret/spuit/tabung suntik sambil dikocok sampai warna biru/ungu menjadi lebih muda dan warna biru/ungunya hilang

Kadar KIA3 (ppm) :

  • Banyaknya larutan standar yang dipakai untuk menghilangkan warna biru dikalikan faktor larutan standar
  • Faktor pengali larutan standar adalah 7,27

Semoga bermanfaat. (Tyas)